Kisah ini berawal dari
persahabatan Khoirudin (Udin) dan Fayakhun Bakamla (Baka) yang sama-sama
bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah makan Padang. Keduanya berteman sudah
sejak lama, tak kurang dari 3 tahun lamanya. Baik Udin dan Baka, keduanya
adalah perantau di ibukota dan tinggal di kost yang sama, meski berasal dari
kota yang berbeda.
Suatu hari, Udin
berniat untuk mengganti ponselnya yang lama, setelah sehari sebelumnya ia
duduk-duduk di konter dekat rumah makan tempatnya bekerja. Udin naksir pada
smartphone yang lebih canggih dari miliknya, meskipun ia sebenarnya tidak
begitu membutuhkan barang tersebut, mengingat smartphone yang dimilikinya
sekarang juga sudah memiliki fitur yang mumpuni. Kamera ponsel baru itu lebih
jernih dan bening ketika membidik foto, dan Udin menginginkan itu. Saat
istirahat siang ia kembali ke konter itu dan melihat kembali ponsel pintar itu
di sana, Udin semakin tertarik.
Bayangan ponsel itu
selalu menari-nari di benaknya, meski ia telah kembali bekerja setelah jam
istirahatnya selesai. Udin mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada
temannya Baka, mengutarakan niatnya untuk meminjam uang Rp 400 ribu sebab
uangnya tidak cukup untuk membeli ponsel itu, meskipun ia sudah menjual ponsel
lamanya nanti di sana. Hari itu Baka sedang libur, jadi Udin tidak bisa
meminjam uang itu secara langsung padanya.
Udin gelisah dan
berulangkali menatap layar ponselnya, sepi. Sepertinya Baka tidak mau
meminjamkanku uang itu, rutuknya dalam hati. Namun ia tak putus asa, kembali ia
mengirimkan pesan kepada Baka dan mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan uang
itu saat ini juga, sebab ada kebutuhan mendadak yang harus segera dipenuhinya.
Lima menit kemudian ponselnya menyala, pesan baru tiba dari Baka. Pemuda itu
mengatakan akan mengupayakan uang pinjaman tersebut, dan meminta Udin untuk
sedikit bersabar.
Udin sedikit lega
membacanya, lalu segera mengirimkan nomor rekeningnya kepada Baka. Setengah jam
berlalu, Baka tak kunjung mengabarinya. Udin kembali mengirimkan pesan yang
sama, satu dan bahkan hingga empat kali sampai akhirnya jam kerjanya habis.
Udin marah dan merasa kecewa berat atas sikap temannya itu, dengan perasaan
jengkel ia kembali ke konter tersebut dan berniat untuk sekedar melihat ponsel
idamannya itu di sana.
Namun Udin tertegun,
sebab dari kejauhan ia melihat Baka sedang menyerahkan ponselnya kepada patugas
konter dan menerima sejumlah uang darinya. Sahabatnya itu baru saja menjual
ponselnya dan akan meminjamkan uang yang didapatkannya pada Udin, agar Udin
bisa menggunakannya untuk mengganti ponselnya dengan yang baru. Udin malu pada
sikapnya dan hanya berdiri di sana hingga waktu yang cukup lama.
Diambil dari http://www.sipolos.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar